RASA 10: Serpihan Rindu

 

Puisi/ Sajak

Serpihan dalam Senyap

Oleh Nor Farah Ain

Di antara malam yang sunyi,  

serpihan rindu menari di angin,  

meluk bayangmu yang tersembunyi,  

dalam setiap detak, hatiku bergetar.


Kau adalah cahaya yang memudar,  

seperti bintang di ujung cakrawala,  

setiap jejak langkahmu,  

meninggalkan bekas di relung jiwa.


Aku merajut harapan dari sepi,  

menganyam kata yang tak terucap,  

serpihan rindu ini mengalir,  

seperti air yang tak pernah berhenti.



Dalam Pelukan Kenangan

Oleh Nor Farah Ain

Serpihan rindu membungkus malam,  

seperti embun yang menetes lembut,  

setiap kenangan terukir dalam,  

menyentuh hati yang penuh harap.


Kau hadir dalam setiap mimpi,  

menyusup dalam setiap detakan,  

meski jarak membentang tak terhingga,  

rindu ini takkan pernah sirna.


Di antara detik yang berlalu,  

aku menanti dalam pelukan kenangan,  

serpihan rindu ini, takkan pudar,  

sebab cinta kita abadi di sana.



Cerpen

Serpihan Rindu

Oleh Nor Farah Ain

Malam itu, Anggi duduk di teras rumahnya, menatap langit yang dihiasi bintang-bintang berkelip. Hembusan angin malam membawa aroma bunga melati dari taman sebelah, mengingatkannya pada Dika, pria yang kini tinggal jauh di seberang pulau. Setiap detik yang berlalu seakan semakin menambah serpihan rindu di dalam hati Anggi.


Dika adalah sahabat masa kecilnya. Mereka sering bermain bersama di tepi sungai, mengumpulkan kerang dan berkhayal tentang masa depan. Namun, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda. Dika melanjutkan pendidikan ke kota besar, sementara Anggi memilih untuk tetap di kampung halamannya, membantu orang tua di kebun.


Setiap hari, Anggi menunggu pesan dari Dika. Meskipun terpisah jarak, komunikasi mereka masih terjalin melalui telepon dan media sosial. Namun, rasanya tidak pernah cukup. Rindu itu seperti serpihan kaca yang tertinggal di sudut-sudut hatinya, tajam dan menyakitkan.


Suatu hari, saat Anggi sedang merawat kebun, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Dika muncul di layar: "Aku rindu, Anggi. Apa kabar di sana?" Hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Ia membalas dengan cepat, mengungkapkan betapa ia juga merindukan Dika. Mereka merencanakan untuk bertemu di akhir pekan.


Hari yang ditunggu pun tiba. Anggi mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya dibiarkan tergerai. Ia berangkat menuju tempat mereka biasa bertemu, di bawah pohon beringin besar di tepi sungai. Setiap langkahnya dipenuhi harapan dan sedikit kegugupan. Bagaimana jika Dika sudah berubah? Bagaimana jika perasaan mereka tidak sama lagi?


Setelah menunggu beberapa saat, Anggi melihat sosok Dika muncul di kejauhan. Senyumnya yang lebar dan tatapan matanya yang hangat membuat jantungnya berdebar. Saat mereka bertemu, seolah waktu berhenti. Mereka saling berpelukan, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.


“Rindu ini seperti serpihan yang tak pernah bisa aku buang,” kata Dika, matanya penuh makna. “Setiap kali aku melihat bintang, aku teringat padamu.”


Anggi tersenyum, merasakan kebahagiaan yang meluap. “Aku juga,” jawabnya, “serpihan rindu ini selalu mengingatkanku pada semua kenangan indah kita.”


Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan tawa, seolah tidak ada jarak yang memisahkan. Namun, di dalam hati Anggi, serpihan rindu itu tetap tinggal. Ia menyadari bahwa meski mereka bisa bertemu, perpisahan akan selalu ada di depan.


Saat malam menjelang, Dika harus kembali ke kota. Mereka berdiri di bawah pohon beringin, mata saling menatap. “Ini bukan perpisahan selamanya, kan?” tanya Dika, sedikit khawatir.


“Tidak,” jawab Anggi, “rindu ini akan selalu ada, tetapi kita akan menghadapinya bersama. Setiap serpihan rindu adalah pengingat bahwa kita saling mencintai.”


Saat Dika pergi, Anggi merasakan sepotong hati yang tertinggal bersamanya. Namun, ia tahu, meski ada jarak, cinta dan rindu akan selalu menyatukan mereka. Setiap malam ia akan menatap bintang, mengingat Dika, dan merajut impian untuk masa depan yang lebih indah.



Senandika

Serpihan Rindu

Ulkhairi Putri Yanos


Serpihan rindu ini seperti hujan yang turun perlahan, menetes satu per satu, menggenang di sudut hati. Setiap tetesnya membawa bayang-bayangmu, hadir di antara kesunyian malam. Aku mencoba melupakan, namun semakin kuingkari, rindu itu semakin membesar, membelah waktu dengan kenangan.


Di setiap tarikan napas, ada ruang yang tak terisi, celah yang hanya bisa kau lengkapi. Aku bertanya-tanya, apakah kau juga merasakan serpihan ini? Atau hanya aku yang terjebak dalam putaran rasa yang tak pernah berhenti?


Serpihan rindu ini tak akan pernah luruh, selalu ada, meski tak terlihat. Ia bersembunyi dalam percakapan yang tak lagi terucap, dalam pertemuan yang hanya bisa kubayangkan. Hingga akhirnya aku sadar, rindu ini bukan untuk disatukan, tapi untuk dirasakan—dalam serpihan yang tak pernah utuh.


Serpihan Rindu

Oleh Ulkhairi Putri Yanos

Serpihan rindu ini seperti debu halus yang berterbangan di udara. Tak terlihat, tapi terus mengisi setiap sudut hati. Aku mencoba menggenggamnya, tapi selalu lepas, menjadi kenangan yang tak bisa kukembalikan. Setiap detik yang berlalu tanpa hadirmu, seperti sayatan halus yang menggores jiwa. Dalam diam, aku merindukan tatapanmu, suara lembutmu, dan canda yang pernah kita bagi.


Rindu ini bukan tentang jarak, tapi tentang kehadiran yang tak tergantikan. Meski kau jauh, bayangmu selalu dekat, menghantui setiap jejak langkahku. Serpihan-serpihan ini mengingatkanku pada semua yang telah kita lalui, pada semua kata yang tak sempat terucap.


Namun, dalam keheningan malam, aku tahu rindu ini tak akan pernah utuh. Ia hanya akan terus menjadi serpihan, terbang tanpa arah, mencari tempat untuk berlabuh, tapi tak pernah menemukan muara.



Quotes

Oleh Marsya Lina  Zalianty


"Ada hati yang tak pernah berhenti merindukan, meski jarak dan waktu terus menguji."


"Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan rindu, hanya diam yang mampu merasakan dalamnya."


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama